tiap hari selalu dimulai dengan keluhan.
hari ini tentang itu, esoknya tentang si itu, lusanya tentang yang itu.
berulang bagai benang kusut yang tak mampu dilihat ujungnya.
dia mengeluh,
aku berusaha memberi sepenggal kalimat bijak.
dia mengeluh lagi,
ku beri lagi senyuman dan usapan pada punggungnya.
dia mengeluh lagi,
aku mencoba bersabar.
dia mengeluh lagi.
aku masih mencoba duduk di sebelahnya.
dia mengeluh lagi,
aku mencoba untuk menutup telinga.
dia mengeluh kisahnya lagi,
hati ini mencoba berpaling dari tempat itu.
dia mengeluh lagi dengan deras,
hati aku ber-istigfar.
dia tetap tak berhenti mengeluhkan takdirnya,
dan saat ini
cukup!!!!!
maaf, aku tak bisa terus dicekoki hujan keluhanmu yang tak pernah usai.
aku bukan malaikat yang bisa selalu damai mendengarkan kutukan-kutukan pada diri sendiri.
maaf, aku terpaksa pergi, Kawan.
bila kata-kataku tak mampu menenangkan dirimu,
tak bisa kulakukan apapun selain pergi.
Kawan, renungilah kebahagiaanmu barang sebentar saja.
aku di sini memang ada untuk menghiburmu,
tapi apalah artinya aku jika hatimu tetap terpenjara dalam atap keluhan?
aku di sini akan menemanimu menjalani hari dengan senyuman.
panggilah aku kembali, saat kau mampu berkata:
“dunia ini terlalu indah untuk selalu dikeluhkan, maafkan aku Tuhan”
aku akan membentangkan tanganku,
selamat datang kembali, Kawanku..
aku merindukanmu,
dekapku untukmu kan hadir dengan penuh rasa ikhlas.
silahkan berkeluh untuk apa yang gagal kau capai, untuk hal yang tidak miliki,
wajarlah manusia berkeluh,
tapi cepatlah istigfar dan bersyukur karena kau masih memiliki satu kata: nafas!
Read more / Selengkapnya...
Beranda Facebook
Minggu, Desember 21, 2008
Keluhan Berujung Rindu
Label: CERPEN
Minggu, Oktober 05, 2008
Bando Pelangi Milik sang Putri
Oleh Tiara Bintang Permata
Di kota sebesar ini, pelangi berani menampakkan diri. Warna alami itu berasal dari...?! Kusarankan, pertanyaan yang belum selesai tersebut lebih baik dijawab dengan imajinasi. Imajinasi anak-anak lebih tepatnya. Sebab, tak baik bicara pelangi di kota metropolitan ini. Pantangan masyarakat. Tabu, tidak baik sekaligus tidak benar menurut KTP. Kartu yang tak perlu diragukan lagi kesaktiannya, meski kini sudah hampir kurang jelas antara apa yang menandai dan yang ditandai.
Siapa pun tahu, tabu bagi kota ini adalah segala hal yang berbau melankolis. Tabu bukan lagi permasalahan mens ataupun seks. Sebab, seks dan mens dapat menjadikan seseorang cepat dewasa.
Sedangkan sedalam-dalamnya menalar melankolis selalu saja mengembalikan diri kita ke masa lalu. Kehadiran pelangi secara tiba-tiba inilah yang membuat kedua adikku sejenak menghentikan perdebatan asmara.
Pelangi telah mengembalikan masa lalu kami. Masa lalu bersama dongeng-dongeng. Dongeng para nenek. Aku masih ingat waktu itu nenek pernah bilang bahwa pelangi adalah bando yang hilang milik seorang putri. Putri tersebut selalu menangis bila ingat bandonya.
Para abdinya mencoba menenangkan sang putri. Mereka juga meramalkan bahwa suatu saat nanti ada seorang pangeran yang akan mengembalikan bandonya. Tapi, selama bertahun-tahun menunggu, bertahun-tahun pula dia menangis. Ternyata, ramalan itu tidak juga menjadi benar.
"Kak, ada apa senyum-senyum sendiri?" adik bungsuku menegur adikku yang lain
"Nenek benar, Dik."
"Benar apanya?" Adik bungsu bertanya lagi.
"Kita telah menemukan bando putri yang hilang, maka kita bisa menjadi seorang putri."
Aku suka canda mereka. Bayangkan sebelum pelangi menampakkan diri, sebenarnya mereka banyak berdebat. Tapi, kini mereka bersahabat. Sebagai kakak tertua, aku senang melihat mereka bisa sama-sama bahagia.
Sore hari, gradasi pelangi yang datang bersama hujan hampir pergi ditelan malam. Malam nanti malam minggu. Biasanya, kedua adikku akan pergi untuk malam mingguan. Mereka berlari. Siapa pun pasti tahu ke mana arah perempuan berlari saban sore. Pasti melakukan rangkaian mandi, bersiap-siap, berdandan, dan mematut busana kencan. Lagi pula sekarang kan malam Minggu.
Aku masih berada di teras ketika mereka mandi. Suasana terasa tenang tanpa suara-suara mereka. Ketika kupandangi langit, aku tak bisa melihat pelangi lagi. Barangkali sudah terlalu lama aku melamun di teras sampai tidak kulihat di depanku ada dua putri cantik.
Mereka sudah bersiap-siap pergi, mungkin ke pesta dansa seperti Cinderella atau sekadar makan malam yang hanya diterangi lilin-lilin. Aku tidak tahu pasti. Namun, menurutku, hanya itu alasan perempuan berhias di malam Minggu. Adikku yang bungsu berangkat lebih dulu. Dia dijemput kekasihnya.
Tak berselang lama, adikku yang kedua juga berangkat. Dia juga dijemput pacarnya. Aku berpesan kepada mereka untuk hati-hati. Karena hari ini mereka tampak seperti putri, aku juga mengingatkan agar tidak meninggalkan sepatunya.
Teras semakin sepi. Dalam sepi, aku telah melupakan angan-angan masa kecil itu. Lagi pula, pelangi sudah habis dimakan malam. Aku memang tidak terlalu mengharapkan mimpi menjadi seorang pangeran karena aku benar-benar sudah senang melihat kedua adikku bisa senantiasa tersenyum manis padaku.
Aku duduk di bangku, membaca buku, begitu caraku mengalihkan pikiran tak perlu. Di luar kudengar suara mobil mendekat, ternyata, berhenti di depan pagar rumah. Itu adikku yang kedua. Dia masuk rumah dengan muka cemberut. Apa yang terjadi dengannya, padahal dia berangkat lebih awal dari adikku yang bungsu?
"Mir," aku mencegatnya di teras. "Kok sudah pulang?"
"Nanda belum pulang, Kak?" dia balik bertanya.
"Belum, emangnya kenapa?"
"Aku ingin bicara sama Nanda."
"Bicara saja sama kakak."
Mira memang lebih sering curhat dengan Nanda. Mungkin karena mereka sama-sama perempuan. Aku tahu tidak baik bila memaksanya. Aku biarkan Mira diam. Mira masuk ke dalam rumah, kemudian tak lama dia kembali ke teras. Seperti tadi, dia belum mau menceritakan masalahnya kepadaku.
"Kak," Akhirnya dia cerita juga, mungkin terlalu lama dia menunggu Nanda. Kesempatan itu kumanfaatkan sebaik-baiknya. Aku berusaha menempatkan diri sebagai sahabatnya. Pembicaraanku dengannya membuat aura kesedihan melekat jelas di wajahnya. Dia sedikit menangis.
Awalnya, tangis itu membuatku merasa bersalah. Tapi, aku tahu air mata baik untuk menghilangkan kepedihan-kepedihan. Di tengah-tengah keheningan teras dan cerita kita, aku melihat Nanda pulang. Sekarang masih jam delapan. Jam segini di kota metropolitan masih jam aktif. Aku khawatir kejadian yang menimpa Mira juga menimpanya.
"Sudah pulang Dik?" sapaku. Mira menunduk tak ingin memperlihatkan wajah sedihnya. Aku paham alasan Mira menunduk.
Nanda melangkah cepat, lalu memelukku. Aku tersentak. Mira melihat ke arah kami. "Ada apa Dik?" dia bertanya. Setelah isak tangis Nanda mereda, kami bertiga bicara. Kali ini pembicaraan di antara kami disertai pula dengan hati.
Kini aku tahu adik-adikku sedang bermasalah dengan asmara. Kali ini sisi duka mengakrabi mereka. Aku tak kuasa melihat mereka dalam keadaan seperti itu. Andai saja bisa, aku mau menggantikan posisi mereka. Sebab, bagi seorang kakak, kebahagiaan adik-adiknya paling utama.
"Dik," Mira berbicara kepada Nanda. "Ternyata pelangi yang kita lihat tadi itu bukan bando milik putri. Ternyata, kita belum menemukan bando itu."
"Ya, Kak."
Aku berusaha mementahkan anggapan itu. Aku yakin, meskipun air mata menetes di pipi mereka, aku melihat mereka tak ada berbeda dengan seorang putri. Apalagi bila mereka tersenyum seperti sebelum berangkat tadi.
Siapa pun itu akan selalu mengidamkan untuk berada di sampingnya. Aku yakin seseorang yang menyia-nyiakan mereka kini sedang meratap sesal. Mereka berpelukan.
Sepertinya, mereka salah bila mengira belum menemukan bando seorang putri yang menangis. Ceritakan saja cerita itu kepada nenek. Dia akan mengatakan, "Kakak laki-laki sudah menjadi pangeran bagi adik-adiknya.
Kedua adiknya menjelma sebagai putri di hati sang pangeran. Begitu kiranya nenek akan menutup dongeng untuk cucunya. Selain itu, nenek akan mengatakan, "Sekarang sudah malam, waktunya tidur".
Read more / Selengkapnya...
Label: CERPEN
Sebuah Kotak Bernama Akuarium
Oleh: Leo Reza Irawan
"Tidakkah kau ingin merasakan kebebasan?" tanya Milo kepada Nemo. Kedua ikan itu lalu saling bertatapan. Apa itu kebebasan? Nemo berpikir dan merenungi hidupnya. Seluruh hidupnya dihabiskan di sini, di akuarium kecil ini. Sendirian. Pemiliknya memelihara ikan kecil. Tak ada yang salah dengan hidupnya. Pemiliknya tak pernah terlambat memberi makan. Akuariumnya tak pernah terlambat dibersihkan. Ia adalah raja di akuarium ini. Ia bisa bebas bermain sepanjang hari. Ia bisa bebas melakukan apa pun yang ia mau. Bebas.
Bagaimana mungkin ia menginginkan sesuatu yang tidak ia butuhkan ataukah tidak ia sadari ia butuhkan?
"Apakah kau ingin menghabiskan seluruh sisa hidupmu di sini? Seekor ikan seharusnya berenang-renang di laut lepas, bukan di dalam kotak kaca seperti ini !" lanjut Milo.
Milo lalu bercerita kepada Nemo tentang sebuah tempat mahaluas bernama lautan. Airnya berwarna biru berkilauan. Cahaya hangat mentari menerpa. Karang dan tumbuhan laut menari-nari di dalamnya. Dan yang terpenting, ribuan jenis ikan berkelompok-kelompok. Ia tak lagi harus sendiri.
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?" Nemo bertanya balik pada Milo.
"Aku ditangkap manusia saat sedang mencari makan. Aku berasal dari lautan. Aku hidup bahagia di sana sampai jaring manusia menangkapku dua bulan lalu. Aku merindukan rumahku. Aku ingin kembali ke laut dan keluar dan kotak kaca ini," jawab Milo, ikan yang baru dua hari masuk ke kotak kacanya.
"Akuarium. Namanya akuarium," sahut Nemo lirih.
Malam itu Nemo tidak bisa tidur. Seperti apa rasanya hidup di lautan, tempat Milo berasal. Seberapa luaskah ia? Ah, betapa berbeda dia dengan Milo. Ia menghabiskan seluruh hidupnya di sini sendirian. Sementara itu, Milo bisa hidup di luar sana bersama jutaan ikan lainnya. Ia tersadar kini bahwa ada sebuah dunia lain di luar sana yang tak pernah ia kenal. Yang berbeda dengan dunianya selama ini.
Malam itu Nemo bermimpi berenang-renang di lautan. Berenang bersama Milo. Bertemu dengan kura-kura, ikan pari, dan cumi-cumi. Bermain bersama di antara terumbu karang dan bintang laut. Bebas melakukan apa pun yang ia mau. Bebas.
Milo baru saja membuka matanya. "Ayo, bawalah aku ke lautan. Aku ingin keluar dari sini." Nemo tiba-tiba telah di hadapannya. "Oke, oke, aku baru saja bangun tidur, tunggu sebentar!"
Sejenak ia berpikir, lalu melanjutkan, "Kau ingin keluar dan sini bersamaku? Baiklah, begini rencananya." Ia menjelaskan rencananya kabur dari akuarium. Rencana dipersiapkan matang oleh keduanya. Hari besar telah menunggu di depan mata, hari kebebasan mereka.
Hari itu akhirnya datang. Hari membersihkan akuarium. Hari yang akan menjadi saksi kebebasan mereka. Tiba-tiba air akuarium itu terguncang. Pemiliknya telah datang dan seperti biasanya membawa akuarium itu ke tempat cuci piring.
"Kau sudah siap?" tanya Milo. Belum sempat ia menjawab, guncangan air terasa semakin kuat. "Kau ingat rencana kita kan?" tanya Milo sekali lagi. Tiba-tiba akuarium dijungkirkan dan sebagian airnya tumpah ke pembuangan.
"Sekarang waktunya!" perintah Milo.
Waktunya melaksanakan rencana, mereka berdua melompat bersama. Mereka masuk pembuangan, lalu menyusuri salurannya sampai laut. Nemo sudah tak sabar lagi, ia meluncur keluar bersama air dan akuarium. Plak! Kurang beruntung. Ia mendarat di samping lubang pembuangan. Milo belum keluar.
Sekuat tenaga ia menggelepar-geleparkan dirinya agar masuk ke dalam lubang itu. Uuuhh... Udara makin menipis. Mulutnya megap-megap. Ia mengerahkan tenaganya untuk satu lompatan terakhir. Dari kejauhan ia melihat tangan pemiliknya hendak meraih tubuhnya.
Lompat! Hap! Plung. Berhasil. Ia berhasil masuk ke dalam lubang air. Kini tinggal menyusuri saluran yang gelap dan lembap ini sampai ke laut seperti rencana Milo. Hei, di mana Milo? Milo tidak ada, mungkin ia tidak sempat melompat.
Tak masalah bagi Nemo. Ia terlalu bahagia mengetahui akan segera sampai di tempat impiannya. Ia menyusuri dan menyusuri pipa demi pipa. Menyusuri dan menyusuri berhari-hari. Hingga ia letih dan tidak tau apa-apa lagi. Sampai ia melihat secercah cahaya terang di ujung sana. Matahari! Ia telah sampai di lautan.
Ia mengalir keluar dan pipa terakhirnya menuju perairan luas. "Inikah yang namanya lautan?" tanyanya. Tak ada air yang mengalir berkilauan, hanya ada limbah keruh kecokelatan. Tak ada terumbu karang dan bintang laut di bawahnya, hanya ada kaleng, botol, dan sampah yang dibuang manusia. Kehidupan di lautan teryata sangat keras. Ikan-ikan harus bersaing mendapatkan makanan. Makanan yang susah untuk didapatkan.
Belum lagi bahaya yang harus dihadapinya dan para pemangsa. Atau, pukat harimau, jala, dan ranjau. Tiba-tiba ia teringat Milo dan segala bualannya tentang lautan. Ia sadar bahwa sesungguhnya ia telah dijebak. Hari itu Milo sengaja membuatnya melompat keluar dari akuariumnya. Betapa kini ia merindukan akuarium kecilnya.
Pemiliknya yang tak pemah telat memberi makan. Akuariumnya yang tak pernah terlambat dibersihkan. Namun, semuanya sudah terlambat. Mungkin itulah kenapa Milo, ikan yang menghabiskan waktunya di lautan, menginginkan akuariumnya. Milo kini adalah raja di akuariumnya. Mungkin Milo kini sedang bermain sepanjang hari. Bebas melakukan apa yang ia inginkan. Bebas.
Read more / Selengkapnya...
Label: CERPEN
Tugas Mulia Sebuah Pohon
Oleh Nathalialie Djaja Waluja
"Hooree... aku akhirnya tumbuh menjadi besar. Menjadi kebanggaan dan perlindungan bagi setiap orang..." kata pohon pelangi. Ya, itu adalah namaku, nama yang diberikan seorang anak kecil kepadaku saat ingin dimusnahkan manusia-manusia tak berprikemanusiaan itu.
Saat itu, dia memberiku nama pelangi karena aku telah memberikan sinar terang. Seperti pelangi dari kegelapan kehidupannya. Kegelapan dari segala kebahagiaan hidup yang tidak pernah didapatkan. Dia adalah anak seorang pengemis. Dia mengamen di jalan setiap hari, kehujanan, kedinginan di jalan, dan diusir serta dihina banyak orang. Namun, hati anak itu sangat mulia. Dia menyelamatkanku dari kondisi alam yang gersang dan memindahkanku dengan sangat hati-hati agar aku tidak mati.
Menanam, merawat, dan menyiramiku secara rutin. Namun, beberapa bulan berikutnya, aku tak tahu nasib anak itu. Dengar-dengar, dia tertangkap satpol PP saat penggusuran gepeng (gelandangan dan pengemis). Saat itu, aku ingin balik menolongnya. Tapi, aku sudah tertancap di sini dan tak bisa ke mana-mana. Maka, aku sangat berutang budi kepadanya. Aku berjanji pada diriku, saat besar nanti akan menjadi pohon yang baik seperti anak itu
"Hari pertamaku dewasa kira-kira apa yang akan kulakukan ya?" tanya pohon pelangi. "Aahaa. Aku tahu, aku akan berusaha melindungi orang-orang yang berteduh padaku, baik saat panas matahari menyengat maupun hujan deras.
Tidak lupa juga aku akan mengisap air yang banyak. Tujuannya, mereka tidak kebanjiran saat hujan. Setelah berpikir, akhirnya datanglah tiga orang yang berteduh saat panas matahari menyengat.
Si pohon pun bersiap-siap melakukan tugasnya. Namun, setelah beberapa jam berteduh, manusia itu membawa sebuah paku dan palu serta papan dari besi. Isinya iklan badut, tukang las, dan sebagainya. Lalu, manusia itu menancapkan papan iklan tersebut pada pohon itu.
"Aaah... tidak. Sakit sekali rasanya. Bagaimana bisa mereka melakukan itu padaku? Dia sudah kutolong, tapi apa balasannya? Dasar manusia tidak tahu terima kasih, " geram si pohon pelangi.
Lima tahun kemudian, tak terasa pohon pelangi semakin berumur. Batangnya semakin besar dan kukuh. Walaupun tubuhnya berubah, sifatnya masih sama. Tentunya, ia masih bertahan hidup dari ulah manusia nakal itu. Namun, di siang bolong ini memang tidak ada yang tahu nasib seseorang. Lagi-lagi, ia masih melindungi manusia dari teriknya matahari. Manusia itu malah membakar sampah tepat di atas akar-akarnya yang menonjol.
"Astaga, ujian apalagi ini. Sakit sekali rasanya, panas dan hampir mati aku dibuatnya!! Tapi, aku tidak boleh menyerah. Tugasku menjaga bumi ini dari kehancuran. Untuk sementara, biarkan saja ulah manusia ini. Mungkin kelak mereka kapok dengan ulahnya sendiri. Sebab, asap polusi yang dihasilkannya akan menanamkan kuman-kuman dalam tubuhnya," ujar sang pohon.
Tahun berganti tahun, usia pohon pelangi sudah lebih dari 20 tahun. Namun, kejadian itu tidak membuat para manusia jera. Yang ada malah semakin menjadi.
Alhasil, si pohon pelangi hampir saja kehilangan sebagian tubuhnya. Bahkan, sel-sel tubuhnya hampir tinggal sedikit. Selain itu, iklan-iklan berupa lembaran-lembaran, poster-poster, dan pamflet-pamflet terus menutupi batang si pohon pelangi. Dengan kondisi seperti itu serta semakin besarnya lubang batang pohon tersebut, si pohon pelangi berusaha tetap hidup selama 20 tahun ke depan.
Tetapi, sepertinya, hal itu sulit terwujud. Hanya selang beberapa tahun, di suatu hari dengan cuaca sangat buruk, hujan lebat disertai kilat menyambar-nyambar, si pohon pelangi benar-benar merasa tidak kuat tagi. Akhirnya, dia mati dengan menjatuhkan diri di atas mobil-mobil dan kendaraan bermotor.
Yaa... si pohon pelangi merobohi beberapa kendaraan dan ada enam korban dalam peristiwa itu. Kini tak akan ada lagi pohon yang berjasa seperti pohon pelangi. Akankah manusia di bumi ini berhenti atas ulahnya? Ataukah mereka akan tetap seperti itu. Hanya kitalah yang tahu jawabannya. (*)
Read more / Selengkapnya...
Label: CERPEN
Hari Esok Selalu Gelap Buatku
Oleh Kus Sumartono
Seperti biasa, pagi ini aku berangkat kerja diantar Heri (putra pertamaku) dengan sepeda onthel sampai terminal. Selanjutnya, aku naik bus untuk sampai ke tempat kerja. Tak ubahnya dengan kemarin, hari ini Heri selalu marah dan menggerutu saat mengantarkanku (ibu kandungnya) berangkat mencari nafkah untuk dirinya dan Indra (putra keduaku).
Aku sadar bahwa kedua putraku sudah dewasa. Aku mulai berpikir jika kelak mereka berumah tangga dan memiliki putra. Saat ini, usianya sudah 27 tahun (Heri) dan 26 tahun (Indra). Usia yang cukup untuk memilih dan menjalani pilihan hidupnya. Heri dan Indra lain. Sama sekali tak terlintas dalam benaknya berusaha mencari kerja supaya dapat meringankan beban ini. Mereka malah senang menghabiskan waktu menonton TV. Juga berkelahi seperti anak kecil.
Selanjutnya, sedih sekali ketika aku pulang kerja dan mendapati Indra hanya menghabiskan waktu di depan TV. Menonton serial kartun kesayangan. Heri hanya duduk melamun di depan rumah. Pemandangan seperti itu hampir setiap hari menjadi makanan pahit buatku. Tidak seperti teman sebayanya yang bekerja dan membantu meringankan beban orang tua.
Namun, semua permasalahan pelik itu tak lekas membuatku marah. Apalagi membenci kedua putra kandungku. Sebab, aku sadar bahwa hanya merekalah yang aku punya di dunia ini. Aku juga menyayangi mereka, walaupun perilaku mereka seperti itu kepadaku.
Terkadang, aku mendengar keluh-kesah mereka dalam sehari. Dada ini semakin sesak karena hampir setiap hari kedua putraku selalu jadi bahan omongan. Apalagi terkadang diledek para tetangga sekitar dengan segala omongan. Misalnya, kedua putraku mirip orang idiot, bodoh, pemalas, dan banyak lagi dari para tetangga. Tak kuduga, aku langsung emosi dan membalas dengan umpatan-umpatan. Ucapan yang seharusnya tidak aku katakan. Sebab, aku yakin, hati ibu mana pun di dunia ini tak akan diam saja. Terutama bila buah hatinya dilecehkan dan dihina orang lain.
Bukan meminta maaf. Para tetanggaku malah menyebarkan fitnah-fitnah ke tetangga lainnya bahwa aku sudah stres dan gila. Sebab, beban hidup aku pikul sendiri. Sejak cerai, aku mudah marah terhadap orang-orang di sekitarku. Padahal, semua itu tidak benar. Otomatis, para tetanggaku menjaga jarak denganku dan kedua putraku.
Esoknya, sebuah ujian sudah menantiku. Tiba-tiba Heri mendekatiku dan bilang ingin punya ponsel. Kata-kata Heri membuatku tersentak kaget. Buat apa dia punya ponsel? Uang dari mana untuk membelinya? Langsung saja aku tolak permintaan itu. Tiba-tiba Heri seperti orang kerasukan. Dia marah-marah dan mengumpat kepadaku. Seperti aku ini bukan ibunya Iagi. Seolah-olah aku telah menjadi pencuri kebahagiaan hidupnya.
Tentu aku sedih sekali. Tapi, aku hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata. Ketika mendengar putra yang sangat aku sayangi dengan lantang menghakimiku. "Seandainya Bapak di sini dan nggak bercerai dengan ibu. Mungkin, hidup kita nggak susah seperti ini. Dasar orang tua bodoh!" ucap Heri kepadaku.
Indra mencoba membelaku. "Nasibmu adalah kamu sendiri yang menentukan, Mas! Nggak ada sangkut pautnya dengan kesalahan dahulu," sahut Indra dewasa. "Kamu tahu apa tentang nasib orang?" jawab Heri (sambil melangkah mendekati Indra dan melayangkan bogem mentah).
Perang saudara lagi-lagi terjadi saat sinar matahari baru beberapa menit menghangatkan bumi. Aku hanya bisa berteriak-teriak minta tolong kepada orang yang barangkali melihat kejadian ini. Untung, Pak Darno (salah seorang tetangga samping rumahku) kebetulan melihat kejadian itu. Dia cepat-cepat melerai Heri dan Indra. Heri dengan emosi tiba-tiba mengambil sebilah pisau yang hendak dihujamkan ke tubuah adik kandungnya.
Begitu pula Indra. Dia berlari keluar rumah dan mengambil batu bata untuk membela diri. Aku tak bisa membayangkan seandainya tak ada seseorang pun yang melerai pertikaian putraku. Mungkin mereka akan saling membunuh di hadapan mata ibu kandungnya.
Ya... Begitulah kejadian pilu yang sering Bu Siti Musaroh alami setiap hari. Kisah janda yang ditinggal suaminya menikah lagi dengan teman kerjanya 20 tahun silam. Dia sekarang harus bangkit dan bekerja keras menafkahi diri dan dua putranya.
Saat tulisan ini aku buat, kejadian sedih lagi-lagi menimpa Bu Siti. Kedua putra Bu Siti seperti tak bosan-bosannya berkelahi. Pada waktu itu, aku tengok jam dinding rumah menunjukkan pukul satu malam. Perkelahian putra Bu Siti seakan memecah keheningan malam yang basah oleh gerimis. Akibatnya, para tetangga berhamburan keluar dan mendatangi rumah Bu Siti. Mereka ingin memastikan apa yang sedang terjadi di malam itu.
Tetapi, para tetangga tidak berani masuk ke dalam rumah. Mereka sungkan dan takut terjadi salah paham. Kebetulan, aku adalah tetangga samping rumah Bu Siti yang dengan cepat mendengar kejadian tersebut. Tanpa pikir panjang, aku yang waktu itu di kamar langsung keluar dengan bapak yang kebetulan lagi nonton tayangan bola di TV. Aku dan bapak melerai dua putra Bu Siti yang mukanya sudah lebam. Menyedihkannya lagi saat aku menjumpai Bu Siti.
Wanita yang usianya sudah kepala lima itu terduduk di lantai pojok ruang tamu rumahnya. Dia menangis dan melamun. Sepertinya, dia sudah lelah akan beban hidup yang dialami. Tak lama kemudian, setelah kondisi cukup tenang, aku kembali masuk rumah. Sebab, besok pagi ada kuliah. Sengaja aku tinggalkan Indra sendiri di depan rumahnya agar sedikit merasa tenang atas kejadian yang baru saja dialami. Heri aku lihat sudah capek mengumpat dan berdiam di ruang tamu. Dia seakan sedang merenungi perilaku yang telah dia perbuat.
Sebelum kejadian perkelahian di malam itu, aku kebetulan sempat berbincang-bincang dengan Bu Siti mengenai aktivitasku dan pekerjaan dia. Tiba-tiba saja, aku terdiam dibuatnya. Mata wanita yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu berkaca-kaca. Dia menerawang jauh ke dalam kisah sedihnya di masa lalu. Aku juga dibuat kaget dan bingung harus ngomong apa ketika sebuah pertanyaan terlontar. "Seandainya nanti ajal tiba-tiba menjemput, bagaimana kelak nasib kedua putraku ya?" ucapnya.
"Ah,..jangan bicara seperti itu! Aku yakin umur Bu Siti panjang kok. Malaikat Jibril pasti kesasar seandainya mau jemput Bu Siti. He he he..." jawabku sambil setengah bercanda agar suasana nggak terlalu tegang dan sedih waktu itu. Bu Siti lantas tertawa atas jawaban konyolku.
Tapi , kata-kata Bu Siti telah menghantui pikiranku. "Iya... ya, bagaimana nanti kalau Bu Siti meninggal? Terus, gimana nasib Heri dan Indra?" pikirku. Kata-kata yang tak perlu diucapkan dan dipikirkan. Tetapi, itu wujud empati di kalangan tetangga dan diriku kepada sebuah keluarga kecil yang perekonomiannya bertopang pada janda. Jauh dari sanak saudara juga telah menambah beban berat perjalanan hidup Bu Siti dan kedua putranya.
Aku sadar, selayaknya tak menulis sebuah privasi seseorang dalam cerita ini. Sempat juga aku berpikir berkali-kali untuk menulis cerita ini. Sebab, aku tidak ingin menyinggung perasaan Bu Siti bila mengetahuinya. Namun, tujuanku menulis kisah Bu Siti bukanlah mengeksploitasi kisah sedih seseorang dan mempertontonkannya. Apalagi sebagai sebuah hiburan seperti tayangan-tayangan sinetron di TV.
Tetapi, aku menulis karena wujud kekagumanku pada sosok ibu yang begitu kuat, tegar, dan tak kenal kata bosan berjuang meniti hidup di tengah-tengah keterbelakangan mental putranya hingga saat ini. Aku yakin masih banyak Bu Siti-Bu Siti lain di sekitar kita. Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi dan intropeksi dini bagi kita agar selalu heroik berjalan ke depan dan tidak lelah menghadapi cobaan hidup. Sebab, selama kita beryawa, selama itulah kita mengalami berbagai macam masalah. (*)
Read more / Selengkapnya...
Label: CERPEN
Menjadi Pacar Dalam Sehari
Oleh Decky Lesmana Chandra
Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah ...
Pagi buta gini kok ada yang muter lagu. Dengan terpaksa aku bangun, mencari sumber lagu itu berasal. Ternyata, suaranya berasal dari pojok tempat tidurku, bukan orang gila yang muter lagu pagi buta gini. Tetapi, suara dari ponselku. Ada SMS masuk.
Met pagi kak,.. =)
Egi gila! Pagi buta gini SMS yang nggak jelas. Aku pun me-reply SMS dari Egi. Gila.
Kok gila sih kak? Normal kan kalau aku ngucapin met pagi buat kakak ?!!
Kalau kamu ngucapinnya niat sih, gak papa dodol. Kalau jam 3 pagi kayak gini, selain gila, kamu emang kurang kerjaan!!!
Kalau aku ngeladenin SMS Egi, bisa-bisa aku yang malah jadi gila. Tuh anak nggak akan pernah berhenti ganggu sampai aku benar-benar marah. Lebih baik aku lanjutin tidurku aja. Nanti masih ada kuliah pagi.
* * *
"Okay class, now I will give you..."
Lagi-lagi tugas, sejak pertama aku ikut ekstra Conversation Club yang ada cuma tugas dan tugas. Aduh ... mana perutku mulai dangdutan, tadi nggak sempat makan karena selesai kuliah harus ke warnet ngerjain tugas kelompok. Hanya karena aku nggak bisa pakai internet, jadi dapat tugas nyatat bahan makalah deh. Ngantuk banget lagi.
"Sorry Mam I'm late,"
"You're always late!" kata Mam Citra sambil diikuti tawa siswa yang lain.
Kalau udah tabiat telat, ya mau digimanain juga akan tetap telat. Penyebabnya adalah makhluk itu, Egi yang nyebelin. Egi duduk di bangku kosong yang ada di sebelahku. Selalu dan selalu, kenapa sih dia selalu memilih duduk di sebelahku? Bukan merasa nyaman, yang ada juga cuma ganggu konsentrasi orang. Huh, sebel!
"Hey, Sis," sapa Egi.
"My name is Citra, not Sis!" jawabku.
"Maksud aku Sister, kamu kan kakak aku!"
"Enak aja. Sejak kapan aku jadi kakakmu? Lagian aku juga nggak mau punya adik yang nyebelin kayak kamu."
"Nggak masalah kalau kakak nggak mau punya adik kayak aku, Tapi, aku mau kok punya kakak yang jutek kayak kamu."
"Hey?!" Aku menatapnya dengan tajam. Dasar, Egi ngetawain aku.
Aku sempat melirik ke arah Egi. Dia tampak serius mendengarkan pertanyaan dari Mam Citra. Kalau dilihat-lihat, anak ini cakep juga, manis banget. Tapi, nyebelinnya minta ampun deh.
* * *
Selesai kuliah aku, menuju ruang conversation. Aku mendekati kerumunan orang yang sedang memperhatikan pengumuman di mading. Aku mencari namaku satu per satu dari daftar nama yang ada. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara seseorang yang aku kenal.
"Kakak lulus kok," kata Egi.
"Tahu dari mana?" tanyaku kurang yakin.
"Tuh, urutan ke- 9, Amanda Putri LULUS" tunjuk Egi.
"Kamu sendiri lulus?" tanyaku.
"Ya iyalah, Egi pasti lulus dong,"
"Kumat lagi deh sombongnya," aku berbalik menjauhi kerumunan orang.
"Kak tunggu," Egi mengejarku.
"Apa?"
"Kakak ada acara?"
"Kenapa?"
"Conversation Club-nya kan udah selesai tuh dan kita sama- sama lulus. Gimana kalau kita bikin acara perpisahan kecil-kecilan? Mau ya Kak?" rayu Egi.
"Kapan? "
"Terserah kakak aja."
"Oke deh, nanti aku hubungin kamu".
* * *
"Tahu dari mana tempat kayak gini? bukannya kamu nggak punya pacar?" tanyaku pada Egi. Kalau tempatnya di sini, gak pantes buat acara perpisahan. Adanya juga untuk ngerayain Valentine. Meja dengan setting candle light dinner.
Lampu-lampu yang romantis. Seharusnya, Valentine kemarin aku ada di sini dengan Aldo. Bukan sekarang ini dengan Egi. Nanti orang-orang malah mengira aku pacaran sama Egi, sama berondong, ampun deh.
"Kalau kakak nggak nyaman, kita bisa pindah ke tempat yang lain kok," tawar Egi.
"Nggak usah, aku suka kok di sini," jawabku. Aku nggak mau mengecewakan Egi. Lagian selama pacaran dengan Aldo, aku gak pernah candle light dinner berdua kayak gini. Aldo emang beda dengan Egi.
"Aku boleh tanya gak?" tanya Egi di sela-sela acara makan kita.
"Tumben tanya? Biasanya, kalau mau ngomong, kamu suka asal nyerocos tanpa mikir tanggapan dari orang,"
"Boleh tanya nggak? Jawabnya malah panjang lebar gitu."
"Kok marah sih, ya bolehlah."
"Kalau ada yang suka sama kakak, gimana?"
"Gimana apanya?"
"Tanggapan kakak?"
"Ya nggak maulah!! Aku kan udah punya Aldo".
"Kalau aku yang suka sama kakak?"
"Apalagi orang kayak kamu. Ogah!!" jawabku.
"Kenapa?" tanya Egi serius.
"Karena kamu aneh, jahil, suka marah-marah nggak jelas,"
Aduh, Egi kok serius banget sih. Egi terus menatapku. Sepertinya, dia ingin jawaban yang lebih meyakinkan.
"Seperti yang aku bilang tadi, Aku punya Aldo," jawabku serius.
"Udah dong Gi, senang banget sih kalau ngerjain aku"
Sebenarnya, aku juga punya sedikit perasaan sama Egi. Aku nyaman kalau ada di dekat dia. Aku bahagia. Aku senang dengan semua perhatian dari dia. Tapi, aku juga masih sayang sama Aldo, bagaimanapun sikapnya terhadap aku.
"Jangan gila deh Gi, kamu tuh aneh. Jadi, aku gak akan mau pacaran sama kamu," aku berusaha membuat pembicaraan ini nggak terlalu serius. Aku nggak tahu haras ngomong apa lagi.
"Kalau kakak nggak punya Mas Aldo, nggak punya pacar? Kakak pasti mau pacaran sama aku?" tanya Egi sambil memakan es krim yang barusan di antar pramusaji. Plus senyum ge-er-nya. Nih anak bener-bener aneh.
"Justru itu, walaupun aku nggak punya pacar, walaupun kamu satu-satunya cowok di dunia ini, aku yakin aku gak akan pernah mau pacaran sama kamu."
"Kakak yakin?"
"Ya dong, kamu tahu kenapa? Karena kamu lebih muda dari aku. Aku gak mau pacaran sama anak kecil, apa kata dunia?"
"Cuma beda setahun aja. Lagian usia gak menjamin kedewasaan seseorang kan kakak?"
"Iya, aku tahu. Tapi, tetap status umur kan beda!!"
"Gini aja deh, aku gak mau membahas ini lama-lama. Sebab, jawaban dan alasanku buat kamu akan tetap sama. Kalau kamu seumuran sama aku, aku pasti mau... Pacaran sama kamu adik kecil," ujarku. Egi terdiam beberapa saat.
"Beneran kalau aku seumuran sama Kakak, Kakak mau menerimaku menjadi pacar? Kakak nggak bohong?" tanya Egi kemudian.
"Nggak," jawabku.
"Oke deh. Suatu saat aku akan menagih janji Kakak,"
"Iya, tunggu aja sampai kehidupan selanjutnya," aku pun tertawa. Mungkin aja kita seumuran. Aku menghabiskan sesendok es krim vanila terakhirku. Egi pun tersenyum.
***
Tiba-tiba aku ingat Egi. Sudah lima hari ini aku nggak pernah ketemu dia. Kok, jadi ingat Egi. Aku mengambil ponselku, ada SMS.
Kakak gak ngucapin selamat ulang tahun buat aku? SMS dari Egi. Aku melihat ke meja di pojok kamar. Kalender hari ini tanggal 28 Februari 2008. Jadi, hari ini Egi ulang tahun? Kebetulan banget hampir sama dengan hari ulang tahunku. Aku me-reply SMS Egi.
Selamat ulang tahun adik kecil, ...
Nanti mau aku traktir di mana? Sekalian ada yang mau aku tanyain. Balasan dari Egi.
Terserah kamu, karena kamu yang ulang tahun.
Aku jemput? Di tempat perpisahan yang dulu ya?
Nggak usah, ketemu aja di tempat itu.
"Udah lama? Maaf ya telat," kataku.
"Nggak papa, aku juga barusan sampai,"
"Selamat ulang tahun ya Egi,"
"Aku nggak minta yang macam-macam kok sama kamu,"
"Terus apa dong?
"Aku cuma ingin janji?"
Emang aku janji apa?
"Ya, janji kamu beberapa hari yang lalu di tempat ini," Egi berusaha mengingatkan aku, tapi aku gak ngerti maksud Egi. Aku hanya diem, berharap Egi memberi penjelasan.
"Aku mau jadi pacar kamu,"
"Hah? Pacar?? Kan, aku udah bilang Gi," Egi Memotong kata-kataku.
"Iya aku masih ingat, kamu nggak mau pacaran sama cowok yang lebih muda dari kamu, apa kata dunia!"
"Tuh kan masih ingat" aku menyela.
"Sekarang tanggal berapa?" tanya Egi.
"28 Februari 2008"
"Besok tanggal berapa?"
"Tanggal 29 Februari 2008, Anak kecil juga tahu kali,"
"Hari ini umurku sama dengan kakak, 21 tahun,"
Apa? Hari ini Egi seumuran denganku? Pantas aja dari tadi dia nggak manggil aku Kakak, tapi pakai kamu. Bodoh. Kok, aku nggak kepikiran sampai gitu. Jadi, aku harus gimana?
"Tetap gak bisa. Cuma hari ini aja kita seumuran. Besok aku lebih tua lagi dari kamu,"
"Justru itu, hari ini aja. Aku mau kamu jadi pacar aku, sehari ini aja. Besok Kakak ulang tahun, aku jadi nggak bisa seumuran lagi dengan Kakak,"
"Iya deh. Tapi hari ini aja kan?" jawabku. Maafin aku Aldo.
"Tapi, empat tahun lagi aku akan menagih janji Kakak. Setiap empat tahun untuk sehari," ujar Egi.
Read more / Selengkapnya...
Label: CERPEN
BELUM TENTU SAHABAT...
Oleh Meidoasa Mariastina
Di dunia ini manusia tidak boleh sombong apalagi lupa kepada kawan sendiri. Ada orang yang bilang bahwa sahabat sejati itu ada. Tapi menurutku, sahabat sejati tidak akan bertahan lama. Mereka hanya mengingat kita saat sedang membutuhkan bantuan. Apa itu dinamakan sahabat sejati?
Sedekat apa pun hubungan sahabat akan punah pula kalau tidak dijaga. Oleh sebab itu, aku tak percaya kalau sahabat sejati itu ada. Tapi, itu hanya pendapatku. Kalian boleh menyangkalnya atau sependapat denganku.
Namaku Alma. Sekarang aku duduk di kelas 2 SMU. Aku mempunyai banyak teman. Saat duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah mempunyai teman dekat. Namanya Sylvana.
Kemana pun kami selalu berdua. Bahkan, kami dibilang kembar karena dandanan kami selalu mirip. Yang membuat beda adalah kebiasaan kami. Sylvana suka merangkai bunga, sedangkan aku lebih senang membaca novel atau komik.
Selain Sylvana, aku mempunyai teman dekat lain waktu SMP. Namanya Rani. Rani anak cerdas. Dia sering mengikuti lomba cerdas cermat dan selalu memenangi setiap pertandingan. Kadang, punya teman seperti dia membuatku iri dan tidak nyaman karena selalu merasa tersaingi.
Walaupun begitu, aku senang punya teman seperti Rani karena dia mempunyai hobi yang sama denganku, yaitu membaca komik. Tokoh favorit kami adalah Inuyasha. Dulu, kami pernah membuat komik bersama. Tapi, karena setelah lulus SMP kami beda sekolah, akhirnya komik itu tidak terselesaikan sampai sekarang.
Kulihat kalender yang terpajang di tembok kamarku. Hari ini tanggal 6 Juli, tepat ulang tahun Sylvana. Kucoba mengirim ucapan selamat ulang tahun melalui SMS.
To: Sylvana
Happy birthday Sylvana... semoga dg bertambahnya usiamu, kmu dpt menggunakan dg lbh baik. Kutunggu traktirannya ya...
Kurasa itu dapat mewakili diriku walaupun aku tak bertemu dengannya.
Lima menit kemudian, balasan Sylvana datang juga.
Sender: Sylvana
Thx ucapannya. Tp klo boleh tau, ini no hape siapa yach? Blz.
Seketika aku langsung terperanjat setelah membaca SMS dari Sylvana. Tak kusangka, nomor HP-ku telah dihapus dari kontak HP-nya. Sedih bercampur kecewa, aku membalas SMS itu.
To: Sylvana
Kasian bgt ya aq? Ya udh gpp. Yg pntg aq udah mengucapkan slmt untukmu.
Sender: Sylvana
P1izz... siapa sih km? Ya maaf deh kalo aq lupa, soalnya no kmu nggak ada di hpku. Blz.
To: Sylvana
Namaku "Cantik". He...9x. Udahlah, nggak pntg kok. Good bye...
Berakhir sudah SMS singkat dengan Sylvana. Aku sangat kecewa, sedih, bercampur jengkel. Padahal, baru enam bulan kemarin kami bertemu saat ulang tahun Lena. Kami saling bertukar nomor HP. Dia masih mengingatku waktu itu.
Tapi sekarang, aku sangat kecewa dengannya. Lebih kecewa karena hal itu bukan hanya terjadi dengan Sylvana, tapi juga Rani. Sejak masuk SMU ternama, dia semakin sombong dan berlagak tidak mengenal saat berpapasan denganku. Sejak saat itu pula, aku tidak pernah percaya tentang sahabat sejati.
Tiga hari kemudian, pekan raya sekolah dimulai. Aku sangat sibuk. Sebagai panitia, aku harus menyiapkan segala perlengkapan. Acara tersebut rutin diadakan setiap tahun dan selalu menarik perhatian dari luar kota. Tiba-tiba, seseorang menepukku dari belakang.
"Hai Alin...!" sapa seseorang. Aku menoleh.
"Hhhaiii...!" jawabku dengan canggung.
"Kok bengong? Kamu udah lupa ya sama aku?"
"Hm...siapa ya?" aku tambah melongo.
"Aduh, wajahku udah berubah banget ya?" Aku masih tidak tahu dan penasaran dengan cewek yang berdiri di depanku itu. Rambutnya pendek menyerupai anak laki-laki. Tapi, dia masih terlihat cantik.
"Aku Irene. Yang dulu selalu usil ke kamu sampai-sampai dimarahi guru BK. Masak kamu lupa?"
"Iren...?!" aku benar-benar tidak menyangka.
"Yup! Gimana kabarmu?"
Akhirnya kami terlibat percakapan panjang. Tak kusangka Irene yang dulu sangat kubenci kini masih mengingatku. Irene teman SMP-ku. Aku sedikit terhibur setelah bertemu dengan Irene. Peristiwa tiga hari lalu membuatku sadar tentang arti dan sahabat.
Kupikir, nggak selamanya yang baik menurut kita akan menjadi baik selamanya. Nggak selamanya pula, yang jelek menurut kita akan jelek selamanya. Begitu pula sahabat. Kita boleh percaya sahabat sejati itu ada atau hanya imajinasi orang.
Tapi yang jelas, sahabat sejati yang paling nyata adalah jiwa dan tubuh kita yang selalu setia menemani kita ke mana pun kita pergi, bahkan sampai maut menjemput kita. Sebab, nggak ada orang lain yang sanggup melakukan itu kecuali diri kita sendiri. Maka, jadilah sahabat yang baik dan sejati bagi diri kita masing-masing.
Penulis adalah siswi SMAN 5 Madiun.
Read more / Selengkapnya...
Label: CERPEN
Hidup Sebagai Sebuah Tikar
Oleh: Dian Rosalia
Aku adalah sebuah tikar. Ya... lebih tepatnya tikar anyaman bambu yang sudah tua dan usang. Aku tinggal di sebuah keluarga sederhana, keluarga Pak Asep. 16 tahun... 16 tahun lamanya aku mengarungi suka duka bersama keluarga Pak Asep. Boleh dikata aku ini sudah mengerti baik buruk, suka duka keluarga Pak Asep sampai mendarah daging.
Pak Asep bekerja sebagai petani, sedangkan istrinya menjadi tukang pijat di kampungnya yang dikenal dengan sebutan Mbok Darmi. Pijatan Mbok Darmi enak betul. Tangannya yang kuat dan mantap membuat banyak pelanggannya berdatangan.
Aku pun dengan senang hati membantu Mbok Darmi menjadi alas bagi pelanggan-pelanggannya, walau terkadang kebanyakan pelanggan Mbok Darmi adalah orang-orang yang baunya menyengat dan dengan dekil yang masih menempel, tapi aku rela karena gara-gara aku, mereka terkadang keenakan bahkan sampai tertidur mendengkur dan mengeluarkan tetesan hujan membentuk pulau-pulau kecil dan mulutnya.
Para pelanggan Mbok Darmi tidak merasa kedinginan dan merasa empuk karena mereka tidak tertidur langsung beralas tanah dan semen. Ya... memang rumah Mbok Darmi hanya beralas semen. Mbok Darmi mempunyai 6 anak. Aku nggak pernah mengerti mengapa Mbok Darmi senang mengumpulkan anak dengan keadaan ekonomi yang sempit.
Padahal, sebagian anak-anaknya sudah besar semua. Seharusnya sekarang Pak Asep sudah enak menikmati kehidupan tuanya. Keluarga Pak Asep senang memberi nama anak-anak mereka dengan peristiwa yang terjadi saat anak-anak mereka lahir supaya memudahkan mengingat kelahiran anak-anak mereka yang banyak.
Anak ke-l sampai 3 bernama Ratna, Roma, dan Evie. Kebetulan, waktu itu zamannya lagi ngetren film Ratna dan Galih serta penyanyi andalan si Mbok, yaitu Bang Haji Rhoma Irama dan Evie Tamala. Aku masih ingat, kalau TV sudah menayangkan bintang favorit Pak Asep dan Mbok Darmi, wah... langsung mata dan pantat mereka tidak berkutit sedikit pun dariku.
Aku sih senang-senang aja. Dengan begini, berarti aku sudah berguna. Ratna, Roma, dan Evie sudah menikah dan tinggal di desa kampung lain, ikut keluarga masing-masing. Pada saat anak-anak mereka menikah atau khitan, aku pun selalu menjadi alas tambahan bagi tamu-tamu keluarga Pak Asep.
Terkadang ada tamu anak-anak kecil yang mencabuti tubuhku hingga rontok berbiji-biji. Aku pun kesakitan, tetapi aku tak mampu mengerang dan berteriak. Namun, saat aku melihat tawa senyum para tamu yang dapat duduk santai dengan hangat dan empuk sambil menikmati kacang goreng dan pisang goreng, sirna sudah sakitku. Aku puas berkorban dan berguna bagi mereka.
Anak ke-4 dan ke-5 mereka kebetulan kembar bernama Inul dan Dewi, duduk di bangku kelas 1 SD. Ternyata di zaman modern sekarang ini mereka juga memfavoritkan bintang yang populer dan ngetren. Mereka juga fans berat Inul dan Dewi Persik. Anak ke-6 bernama Megawati masih bayi berusia 7 bulan, waktu itu lagi ngetren sang Ibu Presiden kita dengan simbol moncong putihnya.
Semua anak Pak Asep kebetulan dilahirkan dengan bantuan bidan dan beralas aku. Sekarang Mbok Darmi sedang mengandung anak ke-7 dan sebentar lagi mau melahirkan. Aku tak tahu sampai kapan Mbok Darmi berhenti melahirkan. Mungkin Mbok Darmi mau membuat kampung sendiri dengan warganya, ya... anak-anaknya sendiri.
Dengar-dengar semalam waktu Pak Asep dan Mbok Darmi lagi ngobrol dengan duduk di badanku, mereka mengatakan, jika anaknya lahir, akan diberi nama Cinta, tapi kalau laki-laki diberi nama Cipta. Sekarang kan lagi zaman ngomong ala Cinta Laura. Ya. .itung-itung sebagai modal, siapa tahu rezeki jabang bayi besok besar kawin sama bule atau kecipratan ngomong Inggris atau jadi kepala TKI sukses. Hehe... aneh benar Pak Asep pikirku. Tapi, maju juga pikirannya.
Aku paling senang kalau Mbok Darmi menidurkan anaknya di atasku. Bau bedak bayi dan minyak telonnya membuat aku tarnbah segar, pikiranku lebih fresh. Tapi, itu pun terkadang hanya sesekali dilakukan Mbok Darmi. Boro-horo beli minyak telon dan bedak, beli minyak tanah aja susahnya minta ampun.
Aku pun rela badanku ditiduri sebagai alas tidur 4 orang yang saling berdesakan. Bapak terpaksa tidur di luar, di amben depan pintu. Sernentara Mbok Darmi, Inul, Dewi, dan Megawati tidur berdesakan dan saling berpeluk-pelukan karena minimnya selimut. Terkadang bau kentut, ompolan si kecil, tetesan air liur terjatuh tepat di badanku. Si kecil juga sering buang air besar di atasku.
Lengkap sudah bau tubuhku. Tapi, aku sangat senang dan rela karena masih berguna bagi keluarga Pak Asep. Mereka menjadi merasa empuk, tidak kedinginan, dan tidak kotor karena tanah dan semen. Semakin lama bambuku semakin menjuat keluar.
Tetapi, Pak Asep senantiasa menjahit aku, menganyam aku menjadi rapi. Bauku juga semakin beraroma, tetapi Pak Asep masih saja setia menjemurku agar tidak lapuk. Aku sudah tidak kuat lagi. Lubang karena tikus, injakan kaki ayam terus merusak tubuhku. Serabut anyaman bambuku semakin menipis, mereka saling memisah-misahkan diri.
Warnaku semakin luntur menjadi pucat seakan-akan orang yang habis jatuh dari gedung lt 4 (wajah shock berat, pucat). Tapi, aku harus menjadi alat penopang ekonomi Mbok Darmi, harus menjadi penghangat pantat-pantat dan tubuh keluarga Pak Asep, aku harus kuat.
Sampai suatu hari... aku tak kuasa menahan lembaran tubuhku yang semakin ringkih karena dimakan usia. Aku pun lemah, berkutu, dan lapuk. Aku tak tahan... Aku ingin berteriak....
Akhirnya pada suatu hari, aku melihat Pak Asep pulang dengan membawa sebuah teman bagiku. Ya. . . .sebuah tikar baru yang cantik berwarna hijau kemerah-merahan. Warna segar dengan bahan yang kuat. Pak Asep memperolehnya dri tetangga sebelah yang baru pulang dari kota.
Akhirnya, aku bisa istirahat dan lega mendapat penggantinya. Aku senang dan bangga dengan diriku sendiri ini. Tidak banyak tikar yang mengalami kisah seperti aku. Ya. .itulah aku, sebuah pahlawan tikar. (*)
Read more / Selengkapnya...
Label: CERPEN
Pujaan Hati Seorang Nenek
Oleh Dhika Puspitasari
Nenek menangis lagi. Seperti kemarin, dua hari lalu, atau kemarinnya lagi. Tangannya berhenti merajut. Air matanya jatuh membasahi syal merah yang belum selesai dirajutnya. Ingin aku bertanya, ada apa gerangan sehingga akhir-akhir ini nenek menangis tanpa sebab. Tapi, isyarat matanya seolah menunjukkan bahwa dia tidak ingin diganggu. Belakangan, aku tahu mengapa nenek sering menangis sesenggukan sendiri.
"Nenekmu rindu kakek," kata ibu menjawab pertanyaanku. "Terlebih lagi, sekarang bulan Ramadan," lanjut ibu. Lantas, ada apa dengan bulan Ramadan? Bagiku, alasan rindu pada kakek cukup membuatku paham. Kenapa nenek sering menangis akhir-akhir ini. Bisa aku bayangkan betapa kehilangannya nenek. Menghadapi kenyataan "kekasih hatinya" tak lagi menemani langkah-langkah rapuhnya di usia senja. Di usianya yang senja, separuh hidupnya telah terisi rekaman saat-saat bersama kakek. Tentunya, kakek adalah belahan jiwa yang tak tergantikan.
Kakek adalah pemuda yang membuat dada nenek berdebar ketika mereka bertemu di suatu sore yang cerah ataupun kala hujan mengguyur tanah-tanah kering di pelataran. Begitu juga ketika nenek dan kakek memutuskan sehidup semati dalam sebuah keluarga bahagia. Hari-hari nenek selalu diisi tawa dan canda kakek.
Dengan setia nenek mengabdi kepada pujaan hatinya itu, memenuhi segala kebutuhan kakek. Meskipun, anak-anak mereka tumbuh dewasa, siap menggantikan tugas nenek merawat kakek yang mulai sakit-sakitan. Nenek tak pernah mau meninggalkan kewajibannya sebagai istri yang setia dan berbakti.
Dirawatnya kakek dengan tangan sendiri, dengan cinta kasihnya yang tak pernah berubah sejak dulu. Akhirnya, datanglah waktu itu. Ketika manusia tak punya hak atas apa pun, termasuk hidupnya sendiri. Ketika manusia harus berpulang pada Pemiliknya. Kakek pun terpejam untuk selamanya.
Nenek goyah tak berpijak. Tubuh rentanya ambruk, bersimpuh sambil mendekap jasad "kekasih hatinya" yang beku kaku. Nenek menangis, memanggil nama kekasihnya itu. Hanya itu yang pernah aku dengar dan saksikan, betapa nenek telah mengabdikan dirinya kepada kakek yang sangat dicintainya.
Sekarang nenek menjalani hidupnya seperti dengan separuh jiwa. Mungkin yang separuh lagi ikut terkubur dengan jasad kakek. Betapa pedih tentunya yang dialami nenek (mungkin juga nenek-nenek lainnya yang telah kehilangan pujaan hatinya). Dia hanya bisa memandang foto-foto kakek yang ditempel di dinding rumah. Mungkin sembari mengucap "Aku rindu padamu."
Waktu bersama yang begitu lama tak akan mudah dihapuskan begitu saja. Kenangan akan selalu terbit di hati nenek setiap melihat, mendengar, atau merasakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kakek. Aku yang baru beberapa waktu berpacaran dan belum menghabiskan banyak waktu bersama merasakan ruang hampa yang begitu besar di dalam hatiku saat hubunganku itu harus berakhir. Lalu, bagaimana nenek? Berpuluh tahun bersama dalam suka dan duka, kini harus berpisah ruang dan waktu. Tanpa tahu pasti kapan bertemu lagi.
***
Aku memberanikan diri mendekati nenek yang air matanya masih bercucuran. Mengetahui aku mendekat, nenek segera menghapus jejak anak sungai yang mengalir di pipinya. Beberapa saat kami terdiam. "Nenek kenapa?" Aku memberanikan diri. Nenek tak menjawab, isyarat tangannya mengatakan padaku untuk lebih dekat dengannya. "Nenek rindu pada kakek?" tanyaku lagi. Nenek tersenyum, anak sungai mengalir lagi di pipinya. Aku jadi merasa bersalah.
"Kita semua merindukannya, Sari. Tentu kau juga merindukan kakek. Benar, kan?" jawab nenek sambil menghapus air matanya lagi. Aku menganggukkan kepala. Nenek menatapku lekat dan aku menjadi bingung. Tiba-tiba nenek mendekapku erat sambil kembali tersedu. "Aku melihat kakekmu di matamu, Sari. Kita akan selalu merindukannya. Selalu," ucap nenek. Aku membalas dekapannya dengan tak kalah erat. Ah, nenek, sungguh kasihan engkau. Kau tentu sangat merindukan kakek, pujaan hatimu. (*)
Read more / Selengkapnya...
Label: CERPEN
Emak, Setidaknya Tersenyumlah
Tanggal 15 bulan Jawa. Bulan terlihat penuh. Di samping bulan yang tak bernoda itu terlihat bintang leret tiga. Dion menamai ketiga bintang tersebut persis nama emak, adik, dan dirinya. Sedangkan bulan yang bersinar terang sendiri malam ini dinamakan Dion dengan nama bapaknya. Bapak yang telah bahagia walaupun tempatnya jauh dari ketiga bintang kecil yang posisinya berderet di langit malam ini.
Mereka keluarga kecil yang sangat menggantungkan cita-citanya di atas langit. Artinya, emak tidak akan membiarkan Dion dan adiknya sedikit pun kehilangan asa. Dulu, emak sering menyamakan mereka dengan benda-benda di langit. Kebiasaan itu membuat Dion berlari melihat langit pada tanggal lima belas bulan Jawa malam ini.
Dion sering bicara sendiri dengan ketiga bintang tersebut. Terutama, bintang yang dia namakan seperti nama emaknya. Dulu, untuk bulan dan bintang, Dion mengatakan dengan kata-kata indah. Tapi, kali ini kata-kata yang sering diucapkan Dion pada bintang yang bernama seperti emak atau adiknya berubah.
Kalimat kebahagiaan seperti "Sambil memadankan bulan, kita hitung tubuhmu..." diganti dengan penyesalan, "Mak, tidak ada sesuatu yang lebih menyedihkan daripada melihat kesedihan di depan mata kita. Tetapi, kita tidak bisa berbuat apa-apa."
Dion membacakan puisi kepada bulan. Mempercantik suasana. Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk emak, selain membahagiakan emak yang melebur dalam diri sang bintang. "Puisi memang tidak bisa dijual untuk menutup semua utang-utangmu, Mak. Namun, setidaknya tersenyumlah," begitu Dion menutup bacaan puisinya.
Dion teringat emak hendak pergi ke luar kota pagi tadi. Dengan wajah berkaca-kaca, emak pamit kepadanya. "Nak, emak minta uang lima belas ribu buat pergi ke Solo."
"Ada apa di Solo? Berangkatnya sama siapa, Mak?"
"Emak akan berangkat sendiri. Mau minta uang ke saudara buat bayar utang."
"Hutang apa? Berapa?" Dion mencoba bertanya. Siapa tahu dia dapat mencarikan uang. Siapa tahu emak bisa tidak jadi berangkat ke Solo. Sebab, kesehatan emak tidak terlalu baik akibat stroke tiga tahun lalu.
"Lima juta," jawab emak dengan berat. Seberat perkataannya yang tidak sanggup menyelesaikan satu pertanyaan Dion lainnya, buat apa?
Tidak puas dengan puisi, Dion mengambil gitar. Bernyanyi menghibur emak di wajah bintang. Raut wajah bintang yang bernama emak itu tidak berubah. Tetap bersinar kecil dengan harapan yang kecil pula. Kelakuan bintang tersebut sama seperti emak yang kali ini harus menggantungkan nasibnya tidak pada tangannya sendiri.
Dion tahu emak tidak biasa menggantungkan diri kepada orang lain. Sekalipun, orang lain tersebut masih tergolong kerabat dekatnya. Dion sangat yakin emak sedang tersudut oleh keadaan. Selama ini, Dion tidak pernah sekali pun mendengar keluhan emak. Baru kali ini emak mengatakan ketidakberdayaannya kepada Dion.
Emak pasti bingung. Sangat tersudut. Dion sebagai anak pertama ingin membantu. Tapi, dia belum mendapatkan pekerjaan apa-apa selepas SMA. Dengan kata lain, tidak ada penghasilan sama sekali.
Kesedihan emak menjadi milik Dion pula. Namun, dia tidak punya hak bicara walaupun ingin bicara. Sebab, yang dibutuhkan emak sekarang adalah lunas dari utang-utangnya, bukan hanya pembicaraan. Lidah Dion serasa kelu. Menahan perasaan-perasaan dilematis antara hendak membantu dengan posisi sadar dirinya yang tidak dapat membantu apa-apa.
Dion takut memperburuk keadaan apabila bicara. Dion memilih diam sambil memetik satu pelajaran, yakni bicara tidak cukup hanya bermodal kepandaian.
Kesedihan Dion menumbuhkan kerinduan pada sosok bapak yang telah lama tiada. Dia ingin bertemu sekejap saja dengan bapak untuk membicarakan emak yang dilanda kepedihan. Jika bapak ada, pasti tidak akan membiarkan emak tersakiti.
Setidaknya, jika tidak mampu juga, pasti bapak turut menemani emak berangkat ke Solo bersama. "Bapak tolong terangilah emak seperti bulan di tanggal lima belas." Mungkin malam ini Dion rela menunggu pertemuan dengan bapak di dalam mimpinya.
Sebelum berangkat ke peraduan, Dion melihat bintang berleret tiga lagi. Satu lagi bintang belum mendapatkan salam dari Dion. Dia lupa. "Selamat malam, Dik." Dion tersenyum. Melihat bintang yang dinamakan seperti nama adiknya itu memang membuat semua kesedihan Dion sirna entah ke mana.
Bintang tersebut satu-satunya yang dapat memaksa Dion tetap tersenyum. Sebab, dia tidak ingin melihat adiknya merasakan kesedihan seperti juga dirinya. Kehadiran bintang kecil itu mengingatkan Dion kepada adiknya. Adik yang selalu menjelma malaikat. Malaikat yang dapat melepaskan kesedihan-kesedihan keluarga.
Sekali lagi, "Selamat malam, Dik." Salam itu sekaligus menjadi pertanyaan besar bagi Dion. Anton nama adiknya. "Bagaimana caranya kau selalu bisa membuat selipan keceriaan tersebut, Dik?" Anton masih SMA, tapi sudah dapat menyelesaikan masalah yang rumit sekalipun.
Bapak, emak, dan Dion sedang berpikir menyelesaikan utang-utang emak. Namun, Anton membuat kebahagiaan terbina dalam diri keluarganya setiap sebelum tidur. "Dik, bagaimana bisa kau gagalkan emak pergi ke Solo pagi tadi?" gumam Dion. Utang itu masalah uang, bukan yang lain. "Lantas, dari mana kau dapatkan uang untuk menggagalkan emak pergi ke Solo?" tambahnya.
Pantaskah seorang kakak menyerahkan masalah kepada adiknya? Lepas tangan dengan persoalan keluarga. Bersikap tak acuh? Mungkin tidak bagi Dion. Dia tidak mungkin bisa melakukan hal tersebut.
Sejenak sebelum tidur, Dion mendengar pintu diketuk dari luar. Dia tidak ingin membangunkan emak. Emak sedang tidur setelah lepas dari utang-utangnya. Emak biasanya yang membukakan pintu. Barangkali Anton yang mengetuk pintu itu atau si penagih utang. Dion berlari mendahului kebiasaan emak membukakan pintu. Sebab, bagi Dion, emak harus tetap tidur nyenyak malam ini.
Terlihat di pintu, Anton berdiri menunggu seseorang membukakan pintu untuknya. Dion menghampiri adiknya dan membuat sinyal jangan berisik. "Emak tidur, Dik." Dion melihat ada sesuatu yang tidak biasa dengan diri Anton. Bukan disebabkan memar pukulan atau kemurungan di wajah Anton. Bukan itu.
Secara fisik, Anton masih terlihat seperti biasanya. Bahkan, terkesan sangat bergembira hari ini. Namun, Dion tidak melihat Anton pulang mengendarai sepeda motor warisan bapak. Dia menduga ada yang tidak beres dengan diri adiknya. Dia tidak ingin masalah kembali datang di keluarganya setelah masalah pagi tadi menghampiri emaknya. "Dik, mana motormu?"
Anton tidak menjawab dengan detail. Tapi, Dion menjadi tahu bahwa sepeda motor itu kini menjadi syarat pelunasan utang emak. Anton dapat mengambil sepeda motornya lagi jika sudah bisa mengangsur uang pinjaman dari jaminan sepeda motor itu. Dion terdiam. Ternyata, sepeda motor warisan bapak telah menolong keluarga kecil yang menggantungkan cita-citanya di langit.
Sebenarnya, Dion juga punya barang warisan yang seharusnya bisa dijual untuk membantu meringankan beban emak. Namun, dia tidak berpikir sejernih adiknya. Dion menyesal karena tidak melakukan seperti apa yang dilakukan adiknya. Dia merasa menjadi makhluk paling egois. Dia meminta maaf dalam hati kecilnya, lalu kembali ke kamar.
Dion menulis kejadian tersebut di sebuah buku pribadi. Dia sangat malu dengan kebijaksanaan yang telah dilakukan adiknya. Dia ingin segera meninggalkan rumah. Tapi, dia tahu, meninggalkan emak sendirian di rumah bukan perbuatan anak saleh.
Dion berpikir keras tentang apa yang bisa diperbuatnya. Sesuatu yang bisa dilakukan sebagai seorang kakak. Apalagi, setelah pergi bukan menjadi solusi lagi. "Mak, tidak ada sesuatu yang lebih menyedihkan daripada melihat kesedihan di depan mata kita. Tetapi, kita tidak bisa berbuat apa-apa."
Akhirnya, Dion tahu apa yang harus dia kerjakan esok hari. Dia akan turut membantu mengembalikan barang warisan bapak di tangan adiknya. Esok Dion bakal mencari kerja
Oleh: Adhi Yudhono Kusumo
Read more / Selengkapnya...
Label: CERPEN

